Beranda

Total Tayangan Halaman

Senin, 30 September 2013

Repost: Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

Saya merasa perlu mengopi ini karena akan membuat saya lebih termotivasi menjadi lebih baik, insyaallah.
Just read this out.


Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]
Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia. [Pengakuan seorang akhwat]
Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]
Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”1 . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.
Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid
Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]
Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].
Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.
Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,
“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]
Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid
Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-Waqi’ah: 24]
Alloh TIDAK berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ
Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”
Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَْ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)
Dan bisa jadi Ilmunya tinggi karena di karuniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ilmu.
Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ?
Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ats-Tsaqofiy]
Sibuk belajar ilmu fiqh dan Ushul, melupakan ilmu akhlak dan pensucian jiwa
Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsir, ushul fiqh, ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlak kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].
Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah
Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata,
“Dan mereka (al-firqoh an-najiah ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan 'Aqiidah al-Waashithiyyah]
Bagi yang sudah “ngaji” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah
Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya insyaAllah sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.
Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)
Kita butuh teladan akhlak dan takwa
Disaat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu tetapi kita lebih butuh teladan ahklak dan takwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlak dan takwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.
Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya. Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah Asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78)
Kemudian pada komentar ketiga,
Baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat
Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]
Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?
Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.
Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu :

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم
“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]
Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.
Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” [Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan ustadz Kholid syamhudi, Lc, majalah Assunah].
Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka insyaAlloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita.
Mari kita perbaiki akhlak untuk dakwah
orang salafi itu ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri” [pengakuan seseorang kepada penyusun]
Karena akhlak buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmi no.69]
Karena Akhlak yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlak pendakwahnya yang mulia.
Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik
Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ
Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)
Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.
Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
27 Ramadhan 1432 H Bertepatan 27 Agustus 2011
Penyusun: Raehanul Bahraen
Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlak kami
Artikel diambil sepenuhnya dari www.muslimafiyah.com

[1] ngaji: istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus shalih, istilah ini juga identik dengan penuntut ilmu agama

Tetanggaku, Oh Tetanggaku



Bismillah,
Alhamdulillah masih diberikan kesempatan buat menyempurnakan amal shalih yang akan jadi bekal kita di akhirat kelak.
My dear bloggie,
Saya sudah beberapa hari pindah kamar. Jauh berbeda dari kamar sebelumnya, kamar saya ini membuat saya sedikit mengalami KONTROVERSI HATI :)
Ceritanya begini, saya sangat tidak nyaman saat mendengar laggu-lagu gak jelas yang diputar di rumah sebelah. Hiks... Hafalan, deh hafalan. Saya malah jadi muraja’ah syair yang seharusnya sudah terkubur dalam dan terkunci mati dalam memori saya.


Solusinya...
Pakai speaker tandingan, saya putar semua koleksi saya. Dari mulai The Jenggot, Axel & Sean, Meem, Raihan dan lainnya. Paling gak telinga saya dan teman-teman selamat dulu.
Sekarang sudah saatnya kita membiasakan diri mendengarkan yang baik-baik. Plis, jangan putarin lagu-lagu galau, yah?
Salah satu nikmat dunia kan punya tetangga yang membuat kita merasa nyaman dan aman. Kamukah orangnya?




Who is Your True Friend?


Assalamu’alaikum Bloggie cakep :)
Dah selesai amalan sunnahnya hari ini belum?
Hari ini saya mau cerita tentang SAHABAT SEJATI. Kamu dah ngerasa menemukan sahabat sejati belum?

Ustadz Ahmad Syatori pernah ngasih sebuah cerita yang berkesan sekali buat saya.
Alkisah, ada seorang pemuda yang memiliki tiga orang teman; A, B dan C.
Baginya A adalah teman yang paling menyenangkan di antara teman-teman lainnya. Gak ada hari yang ia lewatkan kecuali ia habiskan bersama A. Kemana-mana selalu berdua. Bahkan di hari-hari special, pemuda ini selalu menyisihkan kado-kado special buat A.
Temannya yang kedua, B, adalah teman yang biasa-biasa saja. Gak selalu berdua, sih.  Soalnya selalu sibuk dengan A J walhasil, ya kayak gitu. Ada atau gak ada B gak terlampau bermasalah.
Nah, kalau temannya yang C menurut pemuda ini adalah teman yang paling nyebelin, beda jauh deh sama A. Pokoknya kalau gak terpaksa, pemuda ini gak bakalan datang.
Suatu hari, pemuda ini terlibat masalah hukum dan harus mengikuti sidang di pengadilan. Maka mulailah ia berpikir mencari orang-orang yang bisa mensupport dan membelanya.
Yang namanya minta pertolongan, pasti kita mikir siapa orang yang paling dekat dengan kita, kan? Maka yang muncul dalam benak sang pemuda adalah temannya A.
Ternyata pas dimintai lontong, eh tolong, A jawab ,” Waduh, sorry Bro. Gue lagi sibuk banget, banyak kerjaan. Gak bisa deh kayaknya buat bantuin lo.” Ya Allah, kalau hati pemuda ini kayak kaca, bisa dibayangkan betapa remuknya tuh kaca. Kecewa... Udah dikasih banyak-banyak, diperhatikan dan lain-lain, tapi pas lagi susah, nyatanya kayak gitu sikapnya.
Akhirnya ia datang ke B. B ngasih jawaban kayak gini ,”Wah, saya turut prihatin dengan apa yang kamu alami. Sayangnya saya cuman bisa ngantar. Kamu sebutin aja mau diantar pake apa? Mobil mewah, jet atau helikopter, deh.” Pemuda ini cuma bisa ngedumel dalam hati, kalau gitu saya juga bisa berangkat sendiri. Sudahlah.
Mau gak mau, dia akhirnya datang ke C. Di luar dugaan ternyata ngasih jawaban begini,” Saya mau bantu kamu... Tapi, saya akan bantu kamu sesuai dengan porsi kamu ngasih perhatian ke saya.” Kalau yang kayak gini, siapa yang disalahin sama pemuda ini? Yah, dirinya sendiri. Coba tahu kalau C bakalan bantu dia, dia pasti akan lebih baik menjaga hubungan silaturrahim dengan C.
Selesai disini ceritanya. Tapi tahu gak siapa sebenarnya pemuda itu dan teman-temannya?
Bloggie cakep,
Pemuda itu adalah diri kita sendiri. Diri kita yang akan menghadapi pengadilan di hari akhir kelak.
Kalau A? Itu gambaran dunia. Teman yang kita anggap menyenangkan, hari-hari yang kita lewati hanya untuknya ternyata pada akhirnya adalah sia-sia belaka.
B adalah keluarga dan orang-orang yang kita anggap dekat dengan kita. Seberapa dekatpun kita dengan mereka, ternyata mereka cuma bisa ngantar kita nanti sampai ke liang lahat. Kecuali memang investasi kebaikan yang kita lakukan jauh-jauh hari dalam bentuk 3 amalan yang tidak terputus. Yakni ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah dan anak yang shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya. Tapi, yang itu udah kita lakukan gak, ya?
Lalu C... adalah gambaran amal kebaikan yang kita lakukan. Kadang-kadang dalam melakukannya kita masih suka terpaksa. Shalat subuh, malas-malasan. Dhuha? Entar dulu, deh. Qiyamul lail, puasa sunnah dan lain-lain. Seringkali kita anggap sebelah mata. Bahkan dipaksa dulu baru mau.
Bahkan di saat ada panggilan dari Allah versus panggilan dari bendera kesebelasan kesayangan atau peluit wasitnya, atau ada notification dari facebook atau twitter, jika sesungguhnya kita benar-benar sudah jatuh cinta pada-Nya, lambaian-lambaian tadi tiada artinya.
Kamu... mau pilih mana?


Tapi nih, tunggu dulu. Ada berita gembira buat kita yang lagi nyari the true friend. Ini baru dapat pesan dari seorang Kakak yang shalihah. Dibaca, ya?
Diriwayatkan bahwa: “Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang dahulu selalu bersama mereka dahulu di dunia. Mereka bertanya tentang sahabat mereka,” Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.”
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang dihatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah”. (H. R Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd)
Hasan al-Bashri berkata,” Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tidak menemukan aku di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya bertanya pada Allah tentang aku. “Wahai Rabb kami, hamba-Mu si fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di syurga-Mu”.
Maka inilah yang patut kita cari. Ribathul ukhuwah. Semoga Allah mempertemukan dan menjaga persaudaraan kita atas dasar keimanan pada-Nya.
Terakhir,
Sudah mutusin siapa yang jadi your ‘true friend’?

Senin, 16 September 2013

Tentang Kita dan Ujian Kehidupan



Assalamu’ alaikum wa rahmatullah.
Bismillah...
Alhamdulillah Allah berikan kesempatan pada kita untuk mempertemukan kita di hari-hari dimana kita bisa merasakan senang dan sedih, sehat dan sakit dan sejuta rasa lainnya. Shalawat buat Rasulullah yang super keren teladannya sampai akhir zaman.
Sudah lama rasanya tidak berbenah di blog yang sederhana ini.
Agak sedikit heran mungkin, kenapa saya memakai font yang berbeda sekarang. Kemarin sedikit nikmat Allah sudah kembali, notebook saya diambil oleh ‘unidentified person’. Jadi, sekarang gak bisa pake font itu lagi :)
Well, disamping masih berkutat dengan urusan thesis, saya harus terus bergerak biar tidak dibawa arus. Maklum, bahwa saya sudah satu tahun gak kuliah, hehe.
Kali ini saya mau cerita tentang orang-orang yang beriman sebelum kedatangan Rasulullah. Ada kisahnya dalam Al-Qur’an. Udah pernah dengar tentang ashabul ukhdud?
Saya copas link-nya, ya?
Ashabul ukhdud adalah kaum yang dilaknat oleh Allah. Dengan api inilah mereka memaksa orang-orang yang beriman untuk kembali kepada agama mereka semula, agama yang menjadikan makhluk  sebagai sesembahan selain Allah. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan mengingkari peribadahan kepada selain-Nya, mereka lemparkan kedalam api, sebagaimana Allah kisahkan dalam ayat-Nya,
“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [Q.S. Al Buruj:4-9].
Tiba giliran seorang ibu yang sedang menggendong bayi mungil. Wanita itu dipaksa untuk memilih antara dua pilihan. Ia masuk kedalam api tersebut dalam keadaan beriman kepada Allah ataukah jiwanya selamat namun dia harus kembali kepada kekafiran. Demi melihat kobaran api yang menyala, timbul dari dalam dirinya keraguan dan rasa takut untuk tetap berada dalam keimanan. Ia tidak tega melihat keadaan anaknya yang dalam gendongannya. Apakah jiwa yang masih suci ini harus mati bersamanya. Allah pun memberikan kemampuan  kepada bayi tersebut untuk berbicara. Bayi itupun berkata, ”wahai ibuku! Bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”. Tatkala mendengar perkataan bayi tersebut, bulatlah tekadnya untuk masuk ke dalam kobaran api mempertahankan keimanannya.
Memang, telah menjadi ketetapan Allah, bahwa sebagian manusia akan menjadi musuh bagi sebagian lainnya. Tatkala ada yang membela kebenaran, ada pula orang yang menjadi pembela kebatilan. Demikian pula ketika Allah mengutus para Rasul dan para Nabi, dengan hikmah dan keadilan-Nya, Ia ciptakan musuh-musuh yang gigih menentang mereka. Ketetapan Allah ini akan berlaku pula kepada para pengikut mereka, supaya jelas siapakah yang jujur dan siapakah yang dusta dalam pengakuan keimanannya. Allah berfirman yang artinya, “Alif lam mim. Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengaku ‘kami beriman’ sedang mereka tidak diuji. Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah benar-benar mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah yang berdusta.” [Q.S. Al Ankabut:1-3].             
Kisah kekejian yang luar biasa ini bermula dari seorang pemuda yang diutus oleh raja untuk belajar ilmu sihir kepada tukang sihir istana. Ia diharapkan akan dapat menggantikan tugas tukang sihir tersebut setelah kematiannya. Pemuda tersebut tinggal pada suatu kampung yang berbeda dengan tempat tukang sihir tersebut berada. Di tengah perjalanan antara kampung dan tempat tukang sihir berada, tinggallah seorang Rahib yang beriman kepada Allah. Ia hidup mengasingkan diri dari masyarakat yang telah rusak agamanya karena menjadikan raja mereka sebagai sesembahan.
Singkat kata setiap kali pemuda tersebut melewati tempat rahib ini, ia tertarik mendengar ajaran-ajaran yang dianut rahib tersebut. Mulailah ia singgah untuk menimba ilmu yang dibawa oleh sang Rahib. Tiap kali berangkat dan pulang dari belajar sihir, ia menyempatkan diri untuk belajar kepada rahib. Ia pun mempelajari dua ilmu yang tidak akan bersatu, ilmu sihir dan ilmu agama.
Suatu ketika, pemuda tersebut melihat binatang besar yang menghalangi perjalanan manusia. Maka timbullah keinginan dalam pikiran pemuda tersebut untuk menguji manakah ajaran yang lebih utama,  ajaran rahib ataukah tukang sihir. Berdoalah ia kepada Allah, “Ya Allah, jika engkau lebih mencintai apa yang dibawa oleh rahib dari pada apa yang dibawa oleh tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini, supaya manusia bisa bebas dari gangguannya.” Ia pun melempar binatang tersebut dengan batu yang mengakibatkan binatang itu mati seketika. Yakinlah si pemuda tentang keutamaan dan kebenaran ajaran sang rahib.
Waktu terus berlalu, si pemuda menjadi terkenal sebagai orang yang mahir mengobati orang yang buta, sakit belang, dan penyakit lainnya. Suatu ketika datanglah seorang pejabat dekat raja. Dengan membawa hadiah yang banyak ia datang untuk minta disembuhkan dari kebutaan yang dideritanya. Pejabat itu mengatakan, “Hadiah-hadiah yang aku bawa ini kuberikan kepadamu jika engkau dapat menyembuhkanku.”Si Pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, Allahlah yang menyembuhkan, apabila engkau beriman kepada Allah aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkanmu.” Maka pejabat itu pun beriman kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan sakitnya.
Pulanglah sang pejabat kerumahnya dan kembali duduk bermajelis bersama raja. Demi melihat kesembuhan pejabat tersebut, heranlah raja. Ia bertanya, “Siapakah yang menyembuhkan penglihatanmu?” Sang Pejabat berkata, “Rabbku.” Mendengar jawaban tersebut murkalah sang raja, dengan marah ia mengatakan, “Apakah kamu mempunyai Rabb selain aku?” Sang pejabat menjawab, “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.” Seketika itu pula ia disiksa dan terus disiksa sampai akhirnya ia menunjukkan keberadaan si pemuda.
Dicarilah si pemuda tersebut, kemudian ditangkap dan dihadapkan kepada Raja. Raja mulai bertanya kepada si pemuda, ia tahu bahwa pemuda inilah orang yang ia utus untuk belajar kepada tukang sihir. Dengan nada lembut ia bertanya, “wahai anakku, sungguh sihirmu itu telah mencapai tingkatan untuk dapat menyembuhkan kebutaan, sakit belang dan lainnya.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, Allahlah yang menyembuhkan.” Maka pemuda inipun disiksa sebagaimana sang pejabat sampai akhirnya si pemuda menunjukkan keberadaan sang rahib.
Ditangkaplah sang rahib dan dipaksa untuk kembali kepada agama sang raja. Maka sang rahib ini menolak dan memilih tetap berada di atas agama Allah. Ia enggan untuk menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah. maka sang raja membunuh sang rahib yang beriman ini dengan cara yang keji. Dengan angkara murka sang raja menggergajinya sehingga terbelah menjadi dua bagian. Tidak berbeda pula nasib sang pejabat, ia pun dibunuh dengan digergaji menjadi dua bagian, semoga Allah membalasi keteguhan iman mereka dengan surga.
Adapun nasib si pemuda, berbeda dengan dua orang yang terdahulu. Sang raja menginginkan agar pemuda tersebut dibunuh dengan cara yang berbeda. Ia dibawa ke suatu gunung kemudian dilemparkan dari puncaknya. Akan tetapi, Allah menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan ini. Usaha ini dilakukan beberapa kali dengan cara yang berbada. Setiap mereka ingin membunuhnya, si pemuda selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Maka Allah pun menyelamatkannya sehingga terbebas dari makar pembunuhan itu dan kembali kepada raja dalam keadaan selamat. Raja pun merasa bingung mencari cara menghabisi si pemuda tersebut.
Dengan penuh pertimbangan, akhirnya si pemuda memberitahukan kepada raja cara membunuh dirinya, ia berkata kepada raja, “Engkau tidak akan bisa membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan. Kumpulkan manusia dalam satu tempat yang luas, saliblah aku pada batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini’ dan panahlah aku dengannya.” Sang raja pun melakukan perintah si pemuda. Ia menginginkan untuk segera menghabisinya. Pemuda itu ibarat duri dalam daging,  penghalang yang harus segera dimusnahkan. Raja tidak mengetahui rencana Allah yang Maha Mengetahui. Dikumpulkanlah manusia pada suatu tempat, ia ambil anak panah dari tempat anak panah si pemuda, kemudian ia panah si pemuda sembari mengatakan, “Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini.” Anak panah melesat tepat mengenai pelipis si pemuda. Dengan izin Allah matilah pemuda itu di tangan raja.
Namun tanpa diduga oleh raja, rakyat yang menyaksikan peristiwa ini pun serta merta beriman kepada Allah. Mereka mengatakan, “Kami beriman dengan Rabb anak ini, kami beriman dengan Rabb anak ini.”
Telah datang waktunya kebenaran menyusup ke dalam relung hati rakyat. Tatkala keimanan telah menancap kokoh dalam hati, ia laksana batu karang yang tidak hancur diterpa gelombang. Demi melihat peristiwa ini, murkalah sang raja. Ia perintahkan pengikutnya untuk membuat parit-parit di setiap ujung jalan. Kemudian dinyalakan api di dalamnya. Sang raja memerintahkan pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang tetap berada dalam keimanan kepada Allah. Satu persatu mereka digiring dan dibawa ke parit tersebut, menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah.
Demikian sepenggal kisah dari orang-orang terdahulu yang beriman kepada Allah. Dalam kitab-Nya yang mulia, Allah banyak mengisahkan perjalanan hidup hamba-hamba-Nya. Sebagian mereka menentang, adapula yang tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Allah menjadikan kisah-kisah ini sebagai pelajaran bagi kita untuk senantiasa mengikuti kebenaran walaupun beresiko harus mendapatkan penentangan manusia. Allah berfirman, “Sungguh dalam kisah mereka ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal, bukanlah (Al Qur’an ini) sebagai ucapan yang diada-adakan, tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang terdahulu dan sebagai penjelas atas segala sesuatu petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” [Q.S. Yusuf:111].  Allahu a’lam. [Hammam].
Maraji’: Shahih muslim
Tafsir AlQur’an Al ‘Adzim
Sumber: http://tashfiyah.net/2011/12/kisah-ashabul-ukhdud/
Nah, begitu kisahnya. Kalau kita bandingkan dengan kondisi hari ini, coba deh direnungkan. Kira-kira masih ada gak sih kisah-kisah tadi terulang? Yap. Bahkan di kampus saya atau juga dengan yang terjadi di luar sana dengan saudara-saudara kita.
Kemarin saya baru tahu bahwa di salah satu fakultas di kampus, para mahasiswi yang sedang mencoba istiqamah untuk berpakaian syar’i dilarang untuk berpenampilan mengulurkan jilbab hingga menutupi dada saat wisuda dan juga di foto wisuda. Hiks, emang masih ada ya zaman kayak gitu? :(

Sejak sebelum Ramadhan tahun ini, kita juga mendapat kabar tentang bagaimana militer sebuah negara mengkudeta pemerintah yang sah. Bahkan dengan presiden yang beriman dan senantiasa memberikan pelayanan yang maksimal bagi rakyatnya. Ya, nun jauh disana. Di Bumi Kinanah. Dimana para tentara militer yang seharusnya melindungi rakyatnya, malah membunuh, membantai dan membakar kaum muslimin.
Maka, benar pernyataan salah seorang dosen saya, bahwa al-Qur’an itu emang SUPER DUPER KEREN. Dia gak cuma past tense, tapi present continous tense. Dia punya i’tibar untuk generasi-generasi selanjutnya, bukan cuma berlaku pada masa lalu.
Maka sesungguhnya ketika kita bicara mengenai bagaimana caranya bermanfaat bagi orang lain dengan jalan dakwah, ada beberapa hal mengenai watak/karakter jalan dakwah yang harus kita ketahui menurut Ustadz Dr. Kurnia Rahmadi. Kalau tidak paham dengan hal ini, maka ini sama saja dengan heran saat melihat burung bisa terbang atau ikan bisa berenang. Padahal sudah alamiahnya begitu, kan?
Pertama, jalan dakwah itu memang memiliki pendukung yang sedikit. Makanya wajar saja jika ada 1 da’i berbanding 1000 mad’u. Artinya Allah sediakan begitu lapang ladang kebaikan untuk terus kita tuai benihnya. Ini belum apa-apa dibanding nabi Nuh ‘alaihi salam yang berdakwah hampir ratusan tahun, tapi mendapat pengikut yang sedikit.
Kedua, adanya beban yang banyak dan kerja yang menumpuk dikarenakan seabrek masalah yang kita hadapi dan aktornya yang sedikit tadi.
Ketiga, adanya waktu yang panjang dengan jalannya yang berliku.
In short, kita emang belum ada apa-apanya dibanding Rasululullah.

JIKA MUHAMMAD BERFIKIR SEBAGAIMANA ENGKAU MENALAR, TIDAKKAH IA PUNYA BANYAK SAAT UNTUK MEMILIH BERHENTI.
TAPI MUHAMMAD TAHU,
RIDHA ALLAH TIDAK TERLETAK PADA SULIT ATAU MUDAHNYA, BERAT ATAU RINGANNYA, BAHAGIA ATAU DERITANYA, SENYUM ATAU LUKANYA, TAWA ATAU TANGISNYA
RIDHA ALLAH TERLETAK PADA APAKAH KITA MENAATI-NYA DALAM MENGHADAPI SEMUA ITU, APAKAH KITA BERJALAN DENGAN MENJAGA PERINTAH DAN LARANGAN-NYA DALAM SEMUA IKHTIAR KITA.

(Ustadz Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah)
So, solusinya adalah:
1.   Kita harus ingat bahwa bagi Allah mudah saja menjadikan semua manusia beriman, tapi yang Ia inginkan adalah melihat kualitas kerja kita. Seperti kata Allah dalam Al-Mulk ayat 2:
“ yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”.
2.  Tidak ada cerita beristirahat dalam kebaikan, karena bagi mukmin sejati istirahat itu hanya di syurga.
Ustadz Anis Matta bilang bahwa tidak ada pesawat terbang atau kapal laut yang berhenti di tengah jalan saat badai, mereka akan terus berjalan sampai badai itu lewat.
Ustadz Rahmat Abdullah bilang bahwa selayaknya kita terus berlari sampai kefuturan bosan mengejar kita.
3.  Buat produktivitas dakwah, hayu kerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Ibarat kata kalau kita merebus air, kan gak perlu ditungguin sampai mendidih, kita bisa menyelesaikan setrikaan sambil dengerin tilawah. Ntar, muroja’ah kelar, setrikaan beres, air panas bisa masuk dalam termos dan siap dipake bikin teh, deh J
4.       Ingat janji Allah, bahwa disetiap kesulitan, Allah kasih dua kemudahan.
“ Maka sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain”. (Al-Insyirah ayat 5-7)
5.      Meminta ‘energi langit’ sehingga semua makhluk di bumi mencinta kita.
Sudah dulu yah. Kudu siap-siap buat next agenda for today.
Salam.